klikbekasi.co

Ada Fenomena Sebutan ‘Gus’ Jelang Pilkada Kota Bekasi

Konstelasi politik di Kota Bekasi sudah mulai terasa. Munculnya, spanduk-spanduk dan muka para politisi di berbagai pinggiran jalan adalah faktanya menjelang Pilkada 2018.

Banyak cara yang dilakukan para bakal calon wali dan wakil wali kota Bekasi untuk mendulang dukungan dan simpati dari masyarakat.

Maka, tidak heran jika para politisi tersebut terus melakukan formulasi dan pendekatan terhadap konstituen, baik yang bersifat secara elegan maupun dengan cara apapun dengan tujuan ingin mencari popularitas.

Sekretaris Gerakan Pemuda Anshor Kota Bekasi, Hasan Mukhtar, mencontohkan pada pesta demokrasi yang digelar lima tahun ini ada fenomena mendandak ‘Gus’, seperti digunakan anggota DPRD Kota Bekasi, Sholihin, dalam iklan kampanyenya.

“Padahal, dari segi budaya, panggilan ‘Den Bagus’ atau ‘Gus’ sering kita jumpai di pondok pesantren (Ponpes) di sejumlah wilayah di Jawa,” kata Hasan, Rabu (16/8/2017).

Ia menjelaskan, sejatinya panggilan Gus diberikan kepada anak laki-laki seorang kiyai pengasuh pondok pesantren. Hanya saja, hal itu sudah secara otomatis melekat tanpa yang bersangkutan menyebut dirinya sebagai ‘Gus’ di depan umum.

“Sehingga bagi saya sangat lucu, ketika seseorang mengenalkan dirinya dengan nama ‘Gus’,” ujar dia. Padahal, jelas dia, Sholihin tidak memenuhi kriteria untuk menyandang Gus.

Selain dari keturunan Kyai, lanjut Hasan, panggilan ‘Gus’ akan melekat pada seseorang yang memiliki keilmuan dan kewibawaan seseorang dengan kultur kyai khos di Jawa.

“Jadi jika di Kota Bekasi mendadak ada yang mendaklarasikan diri dengan panggilan ‘Gus’, itu kembali ke individunya orang tersebut, apakah dirinya sudah pantas dengan gelar tersebut atau tidak,” tegasnya.

Karena itu, kata Hasan, jangan sampai masyarakat Kota Bekasi menjadi bingung dan dipaksa untuk pragmatis karena sikap dan klaim pribadi salah seorang petinggi disalah satu Partai Islam dengan  menyomot gelar tersebut untuk kepentingan sesaat jelang Pilkada.

Meski demikian, ia beranggapan kalau saat ini masyarakat Kota Bekasi sudah sangat cerdas, ia juga meyakini jika masyarakat bisa menilai siapa sebenernya orang tersebut, dan bagaimana sepak terjang kesehariannya, apalagi yang mendadak ‘Gus’ adalah salah anggota DPRD Kota Bekasi.

“Saya mencoba menganalogikan, ini kalau dalam dunia dagang, jualan mangga asem tapi dibilangnya sama yang dagang mangga harum manis. Lebih baik biasa-biasa saja, biar nanti masyarakat yang memberikan penilaian. Tentunya peniliain  pribadi yang bersifat obyektif. Jadi bukan diri kita yang memberikan penilaian,” papar Hasan.

Untuk menjadikan kota yang sejajar dengan kota besar lainya di Indonesia, sudah saatnya Bekasi harus berubah, pola dan kepemimpinan yang cenderung konservatif.

Hari ini pun, kata Hasan, harus segera berevolusi dan  bermetamorfosa menjadi kepemimpinan yang transparan dan akuntabel sehingga tidak ada pembohongan publik.

“Jika dari awal  sudah ada calon pemimpin yang telah membohongi diri sendiri dan orang lain, bagaimana ia akan menjadi pemimpin dikemudian hari?,” tandas Hasan.

Hingga berita ini diturunkan, kami belum mendapatkan konfirmasi dari Sholihin. (Mya)


Ingin tulisanmu dimuat di Bekasi Terkini? Kirim ulasan ringan tentang komunitas, kuliner, destinasi, budaya atau tulisan opini ke [email protected]