Belum bayar Pajak, Pemkot Bekasi Segel 326 Reklame

Pemerintah Kota Bekasi menyegel sebanyak 326 reklame di wilayah setempat. Sebab, reklame berbagai ukuran itu belum membayar pajak serta tidak melaporkan asuransi berikut jaminan masa kontruksi.

“Ini bagian dari penertiban reklame,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Kota Bekasi, Tri Adhianto, Senin (17/4/2017) kepada awak media.

Tri menyebutkan, jumlah papan reklame yang tersebar di seluruh jalan di Kota Bekasi berjumlah 1.145 titik, serta lima jembatan penyeberangan orang.

Tri mengatakan, pihaknya tak segan menebang papan reklame jika pengusaha reklame tersebut tak segera membayar pajak, serta menunjukkan asuransi berikut jaminan kontruksi.

“Tahapan awal segel, kemudian menutup dengan kain, terakhir ditebang,” kata dia.

Selain menyegel ratusan papan reklame tersebut, kata dia, pihaknya menemukan papan reklame dengan ukuran besar telah melebihi masa kelola. Walhasil, pemerintah akan segera mengambil alih pengelolaan reklame tersebut dari pihak swasta.

“Masa kelola yang diberikan selama lima tahun,” kata dia.

Tri mengatakan, tak menutup kemungkinan masih banyak papan reklame yang sudah habis masa kelola. Karena itu, pihaknya tengah mengidentifikasi semua reklame di Kota Bekasi.

“Secara kasat mata, reklame di Kota Bekasi cukup banyak, potensi pendapatan cukup besar,” tutur dia.

Tahun ini, lanjut Tri, pihaknya ditargetkan memperoleh pendapatan asli daerah dari reklame sebesar Rp 80 miliar.

Tri akan berusaha semaksimal mungkin untuk merealisasikan target tersebut, mengingat saat ini 30 persen reklame disegel.

“Tahun lalu target Rp 60 miliar, terealisasi sebesar Rp 40 miliar,” beber dia.

Wakil Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bekasi, Maryadi mengatakan, mendukung langkah pemerintah melakukan identifikasi ulang papan reklame.

“Agar target pendapatan realistis,” kata dia.

Ia mengatakan, langkah tegas dari pemerintah sangat dibutuhkan untuk menertibkan reklame di Kota Bekasi. Jika tak begitu, kata dia, Kota Bekasi akan menjadi hutan reklame.

“Bukan menambah keindahan kota, reklame malah menjadikan kota semrawut,” tandas dia. (Mya)


Ingin tulisanmu dimuat di Bekasi Terkini? Kirim ulasan ringan tentang komunitas, kuliner, destinasi, budaya atau tulisan opini ke redaksi@bekasiterkini.com.