Bripda Mutia: bicara Kartini tidak jauh dengan dari bahasan Feminisme

Bicara soal emansipasi perempuan yang dipelopori oleh RA Kartini, tidak jauh dari bahasan feminisme, demikian disampaikan Polisi wanita yang bertugas di Polres Metropolitan Bekasi Kota, Mutiara Utami Putri (22).

Saat ini, kata Mutia sapaan akrab Mutiara Utami Putri, atas perjuangan yang telah diemban oleh RA Kartini, perempuan sudah memiliki hak yang sama dengan laki-laki. Bahkan, profesi dan jabatan lebih terbuka terhadap gender perempuan, dibandingkan di masa lampau.

Polwan berpangkat Bripda ini mengatakan, tak sedikit pula perempuan yang menempati jabatan lebih tinggi. Memang, perempuan dapat memahami bagaimana kompetensinya dan apa saja hak yang seharusnya diperoleh.

Namun, bukan berarti perempuan memandang sebelah mata kaum adam. Feminisme dalam Kartini era kini, menurut Mutia, perlu terciptanya keselarasan dan kesetaraan antara posisi perempuan dan laki-laki. Agar kesetaraan tetap terbina, satu hal yang perlu dilakukan, komunikasi dua arah.

Istilah feminisme diciptakan bukan berarti perempuan mendominasi laki-laki dari berbagai aspek. Melainkan, bagaimana mereka menciptakan keselarasan dalam menjalani kehidupan bersama.

“Kita melihat gerakan feminisme ini menjadi gerakan yang agak kasar dan kehilangan nuansa bahwa perempuan itu lembut walaupun tegas. Tidak boleh melangkahi atau menggagahi laki-laki,” kata dia, Jumat (21/4/2017) kepada Bekasi Terkini.

Dalam berdinas, perempuan kelahiran Bandung, Jawa Barat, tanggal 09 November 1994 ini mengaku banyak sekali suka dan duka yang di alaminya selama kurun waktu 2 tahun sejak ia melakoni dinas di instansi kepolisian.

Perempuan yang menjabat sebagai Banit Reskrim di unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) sejak tahun 2015 sampai dengan sekarang ini mengisahkan pelajaran yang telah diambil selama ia mengawal kasus pelanggaran yang menimpa korbannya dalah perempuan dan anak.

“Banyak suka dan duka serta pengalaman yang dapat diambil hikmahnya selama berdinas di PPA, saya dapat merasakan hati naluri seorang ibu, banyak kisah-kisah kehidupan yang membuat saya sedih dan terharu hingga saya meneteskan air mata,” ungkap dia.

Meski demikan, perempuan karir berparas cantik ini harus tetap tegar meniyikapi tugas pokok dan fungsinya sebagai perwira kepolisian. Namun, sikap feminisme itu harus tetap ada pada dirinya.

“Saya bangga karena saya dapat memberantaskan orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang sudah merusak generasi penerus bangsa dan yang sudah merusak fisik, psikis, dan keharmonisan dalam rumah tangga terutama pada kaum hawa,” tegas dia.

Melihat perjuangan RA Kartini tentunya membuat Mutia tidak gentar dengan hal-hal yang beresiko terhadap dirinya sebagai perempuan. Ia tetap memposisikan dirinya sebagai peremouan walaupun bekerja layaknya laki-laki.

“Pekerja PPA bila ada kasus saja. Tapi diluar itu kita juga mengawal aksi demonstrasi massa dan berpatroli keliling Kota Bekasi dengan motor trail. Kita setarakan diri kita (perempuan) dengan lakilaki, namun dengan memporsikannya,” kata dia.

Perempuan yang mengaku dilantik sebagai Polwan pada Tahun 2014 silam ini menutup pesan agar wanita yang ada di Indonesia ini dapat menanamkan kesederhanaan dalam hati.

“Karena sederhana dalam kehidupan akan melahirkan aura yang positif, dan aura positif tersebut akan memberikan suasana hati yang menyenangkan, dan suasana hati yang menyenangkan akan memberikan kita kesuksesan,” tandas dia. (Mya)


Ingin tulisanmu dimuat di Bekasi Terkini? Kirim ulasan ringan tentang komunitas, kuliner, destinasi, budaya atau tulisan opini ke redaksi@bekasiterkini.com.