Demonstran nobatkan Rahmat Effendi sebagai ‘penista manusia’

Ratusan massa gabungan korban kebijakan Pemerintah Kota Bekasi terus melakukan orasi di depan Kantor wali Kota Bekasi, Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Bekasi Selatan, Selasa (21/3/2017).

Koordinator aksi Yanto, mengatakan akan terus melakukan perlawan terhadap kebijakkan pemerintah Kota Bekasi yang tidak pro terhadap masyarakat miskin. Seperti halnya kasus penggusuran dan perubahan trayek Elf K-01A.

Yanto menyebut, bulan November 2016 lalu meruapakan hari bersejarah dan memilukan bagi warga Kampung Poncol Bulak, Kelurahan Jakasetia, Kecamatan Bekasi Selatan. Hal ini dikarenakan rumah warga digusur tanpa ada tempat relokasi dan ganti rugi bangunan.

“Kurang lebih 6 bulan warga Korban penggusuran tidak menentu hidupnya, tempat tinggal warga rata dengan tanah. Dan sampai sekarang tidak ada keadilan dan rasa kemanusiaan yang ada pada hati wali Kota Bekasi Rahmat Effendi,” kata dia kepada Bekasi Terkini.

Menurut Yanto, kebijakan wali Kota Bekasi Rahmat Effendi menggusur warga tanpa ada tempat relokasi dan ganti rugi bangunan tersebut merupakan kebijakan yang tidak populis. Kata dia, warga sudah mengkategorikan Rahmat Effendi sebagai penistaan terhadap manusia.

“Penggusuran atas nama penertiban pemukiman liar Kota Bekasi tidak lebih adanya campur tangan ‘Taipan’ atau pengembang property demi keunntungannya pribadi dan para pengusaha tanpa memperdulikan kehidupan rakyat banyak,” tegas dia.

Rahmat Effendi dalam kasus ini harus bertanggungjawab terhadap kurang lebih 174 KK korban penggusuran yang hari ini kata Yanto, hidupnya dinistakan. Ia menyayangkan dengan sikap arogansi wali Kota Bekasi yang tidak pro tehadap warga dan masyarakatnya.

“Seharusnya prikemanusiaan pada diri seorang pemimpin rakyat harus lebih diutamakan dan menjadi ruh bagi setiap manusia, pemimpin hanya manusia, dan rakayat juga manusia, jadi manusia harus memanusiakan manusia,” tutur dia.

Dengan adanya kasus penggusuran yang belum juga tuntas, kasus kesewenang-wenangan wali Kota Bekasi Rahmat Effendi juga kembali terjadi soal trayek Elf K-01A jurusan Terminal Cikarang-Bekasi. Pada akhirnya Rahmat Effendi dinobatkan sebagai ‘penista manusia’.

Trayek angkutan itu, kata Yanto, dirubah oleh Dinas Perhubungan atas perintah dari wali Kota Bekasi Rahmat Effendi. Sebelumnya angkutan tersebut beroprasi dari Terminal Cikarang-Stasiun Bekasi. Kini, berubah hanya sampai Terminal Bekasi.

“Sebelumnya selama puluhan tahun tidak ada masalah terhadap lintasan tersebut. Bhakn sebelum Kota Bekasi lahir pada pemekaran dulu angkutan itu sudah beroprasi, seiring wali Kota Bekasi berganti tidak ada yang pernah merecoki itu dan hanya Rahmat Effendi saja yang campur tangan,” kata dia.

Menurut Yanto, hal ini tidak lain ada campur tangan pengusaha sama halnya dengan kasus penggusuran yang ada di Kota Bekasi khususnya Pekayon Jaya-Jakasetia. Kuat dugaan juga terlihat jelas dengan hadirnya angkutan berbahan bakar gas ‘Bajaj’ yang beroprasi diwilayah Kecamatan Bekasi Timur.

“Selama ini kita tidak pernah mempermasalahkan hadirnya Bajaj di Kota Bekasi ini, namun lama kelamaan kita biarkan kenapa jalur kita dihabiskan, dan saya menduga ini ada kepnetingan pengusaha dengan si Pepen itu,” kata dia.

Yanto menyebut, wali Kota Bekasi Rahmat Effendi lupa akan sejarah Kota Madya ini. Untuk itu ia meminta agar Rahmat Effendi dapat kembali belar menerka sejarah yang ada di bumi Patriot ini pertihal tentang angkutan Elf K-01A.

“Apakah dia lupa dengan angkutan Elf ini, angkutan ini pertama kalia ada di Bekasi. Bahkan sebelum Pepen duduk dibangku goyang (pemerintahan). Dia harus ingat dan tahu apa sebenarnya angkutan Elf K-01A ini,” kata dia.

Akibat kebijakan Rahmat Effendi dengan memutuskan lintasan angkutan Elf K-01A, kata Yanto, ratusan pengemudi yang sebelumnya hidup pas-pasan kembali menderita dan praktis tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga.

“Penumpang juga sangat dirugikan akibat pemutusan lintas tersebut. Kami menduga kebikan kontroversi ini memang adanya libatan Rahmat Effendi dengan pengusaha-pengusaha dekatnya. Sehingga supir menjadi korban demi keuntungan dompetnya,” tandas dia.

Di informasikan, aksi demostrasi ini juga dipelopori oleh gerakan nasional 98, jaringan aktivis pro-Demokarsi, FSB nikeuba KSBSI, dan aliansi pelajar Indoneisa 98.

Mereka menuntut ganti rugi bangunan korban penggusuran Kampung Poncol Bulak, Kelurahan jakasetia, mengembalikan linatasan Elf K-01A seperti awalnya, dan menyerukan kepada warga dan masyarakat Kota Bekasi agar bersatu melewan kesewenang-wenangan wali Kota Bekasi Rahmat Effendi. (Mya)


Ingin tulisanmu dimuat di Bekasi Terkini? Kirim ulasan ringan tentang komunitas, kuliner, destinasi, budaya atau tulisan opini ke redaksi@bekasiterkini.com.