klikbekasi.co

Duh, Anak Pendeta di Mustikajaya Sodomi 3 Bocah Tetangga

Seorang pemuda di wilayah Kelurahan Mustikajaya, Kecamatan Mustikajaya, nekat menyodomi tiga bocah yang tidak lain adalah tetangganya.

Basuki, tokoh pemuda Karang Taruna Kelurahan Mustikajaya, mengatakan kalau korbannya adalah G (4), A (5) dan R (10). Pelaku sendiri, berinisial V (20) seorang mahasiswa yang juga merupakan anak pendeta.

Tindakan pelecehan seksual itu terkuak setelah orangtua dari G, sedang memandikan anak balitanya itu. Namun, ketika dimandikan, G merasakan rasa sakit pada bagian duburnya.

“Ya si G itu saat dimandikan sama orangtuanya merasakan sakit pada bagian duburnya, sampai nangis,” kata Basuki, Rabu (23/5/2017) kepada Bekasi Terkini.

Penasaran dengan keluhan G, kata Basuki, orangtuanya lantas memriksan keluhan G dan menemukan luka memar pada bagian duburnya.

Tak heran jika orangtua G mempertanyakan apa yang telah di deritanya. Setelah mengetahui cerita dari G, orangtua G kaget bukan kepalang.

Soalnya, G bercerita kalau duburnya telah dimasukan penis V. Informasi yang didapat Basuki, pelaku sering melakukan tindakan pelecehan seksual itu.

“Akhirnya, orangtua G bercerita kepada tetangga. mengejutkannya, ada beberapa anak yang mengaku telah diperlakukan sama oleh V, sampai akhirnya A dan R pun mengakui,” jelas dia.

Basuki menegaska, sebenarnya tidak hanya tiga orang saja yang menjadi korban sodomi oleh V. Tetapi, ada sejumlah bocah yang telah mengakui telah diperlakukan sama oleh pelaku.

“Yang lapor ini baru tiga orang, orangtua bocah yang lain belum pada laporan semua. Karena laporan pertama di Polsek Bantar Gebang tidak diindahkan oleh petugas setempat, hingga kami ke Polres Metro Bekasi Kota,” terang dia.

Adi, anggota Karang Taruna Kelurahan Mustikajaya, menambahkan, kalau saat itu pelaporan yang telah dilakukan oleh para korban sodomi tidak dapat diterima oleh Polsek Bantar Gebang.

Alasannya, karena di Polsek di Kota Bekasi memang tidak ada unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA). Unit itu, hanya ada di Polres Metro Bekasi Kota.

Hanya saja, ia menyayangkan soal pelayanan di Polsek Bantar Gebang. Soalnya, petugas di sana tidak memberikan arahan kepada para pelapor untuk menindaklanjuti kasus sodomi ini ke Polres Metro Bekasi Kota.

“Petugas malah mau mediasi saja, secara kekeluargaan. Tapi, keluarga korban tidak terima dan tetap ingin mengambil jalur hukum. Disanah, pelaku katanya juga sempat dihadirkan, tapi tidak ditahan,” kata Adi.

Karena itu, Adi menyayangkan betul langkah yang di ambil Polsek Bantar Genag soal kasus sodomi itu. Padahal, kasus itu adalah bagian dari tindak pidana yang telah diatur oleh undang-undang perlindungan anak.

Adi juga membenarkan kalau V adalah anak dari seorang pendeta. Karena itu, ia menyayangkan betul kasus yang terjadi itu.

“Iya benar, pelaku adalah anak dari seorang pendeta. Saya tidak tahu tempat beribadahnya di mana, yang pasti orangtuanya adalah pendeta,” kata dia.

Orangtua korban, saat melakukan pelaporan di Polres Metro Bekasi Kota, tidak dapat mengemukakan banyak hal. Mereka malu, tetapi sangat geram dengan apa yang telah menimpa anaknya.

Kepala Bagian Humas Polres Metropolitan Bekasi Kota, Komisaris Erna Ruswing, membenarkan kasus itu. Ia mengaku kalau saat ini kasus pelecehan seksual itu sudah masuk dalam tahap penyelidikan.

“Iya betul, kami menerima laporan warga terkait kekerasan seksual. Saat ini masih ditangani unit PPA Polres Metro Bekasi Kota untuk selanjutnya dilakukan penyelidikan,” tandas dia.

Sementara Komisioner Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Bekasi, Sopar Makmur, mengutuk keras tindakan keji itu. Ia berharap agar kepolisian dapat segera menangkap pelaku.

“Itu tindakan yang memang diluar kepala, saya kutuk keras tindakan itu, sangat keji dimana korbannya masih ada yang balita. Proses hukum itu harus tetap terjadi, agar pelaku juga jengah,” pungkas Sopar.(Mya)


Ingin tulisanmu dimuat di Bekasi Terkini? Kirim ulasan ringan tentang komunitas, kuliner, destinasi, budaya atau tulisan opini ke [email protected]