klikbekasi.co

Kisah Siswa SMPN 41 Bekasi, Dicoret dari Duta Sekolah lantaran Bapaknya Nge-Grab

Bagaimana perasaan seorang siswa ketika mendapatkan tindakan diskriminatif dari guru di sekolah, hanya karena orang tuanya tidak kaya? Berikut cerita dari salah satu orang tua siswa, kepada Bekasiterkini.com.

ERA adalah siswa kelas 7 di SMP Negeri 41 Kota Bekasi. Belum lama ini, seorang guru memilihnya menjadi duta sekolah untuk menyambut kedatangan Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi, dalam waktu dekat.

“Dari satu sekolah, dipilihlah dua orang. Satu perempuan, satu laki-laki. Semuanya kelas 7. Ini untuk keperluan menyambut kedatangan wali kota,” kata Taufan, bapak ERA, mengawali kisahnya, Jumat (11/8/2017).

Seorang guru menjelaskan kepada ERA, bahwa dalam penyambutan nanti, duta mesti mengenakan pakaian adat dan dirias. Sebagai anak remaja, ERA tentu sangat gembira.

Di hari yang sama, ERA ditanya mengenai latar belakang orangtuanya. Terutama informasi pekerjaan bapaknya. Ia menjawab apa adanya bahwa bapaknya merupakan pengemudi ojek online Grab.

“Setelah tahu informasi latar belakang profesi saya, guru tersebut kemudian mengatakan kepada anak saya mengenai pencoretan namanya. Nama anak saya diganti dengan yang lain tanpa penjelasan apa pun,” cerita Taufan.

Pulang sekolah, ERA menangis. Sang ibu kemudian menanyakan ada apa gerangan. ERA pun menceritakan perihal pencoretan namanya dari daftar duta sekolah. ERA berkesimpulan namanya dicoret karena bapaknya berprofesi sebagai pengemudi ojek online.

“Anak saya yang mengambil kesimpulan seperti itu, dia kemungkinan tertekan secara psikis. Istri saya akhirnya memberi pemahaman agar anak saya tidak jatuh mentalnya,” kata Taufan.

ERA diberi penjelasan oleh ibunya: namanya mungkin dicoret agar kegiatan menjadi duta sekolah tidak membebani bapaknya. Sebab, untuk menyewa pakaian adat dan aksesoris lainnya, mengeluarkan uang tidak sedikit.

“Setelah diberikan pemahaman seperti itu oleh istri saya, anak saya agak lega. Tapi saya tidak tahu apa yang tersimpan di pikirannya. Namanya anak, pasti minder,” cerita Taufan.

Taufan berharap kejadian seperti itu tidak terulang kepada siswa lain. Seorang guru harus lebih hati-hati terhadap psikologis anak, jangan sampai membuatnya merasa terdiskriminasi—apalagi terintimidasi.

“Saya dengar Kota Bekasi punya program menjadi Kota Ramah Anak. Artinya, sebisa mungkin, anak-anak harus mendapatkan perhatian khusus, termasuk psikisnya,” kata Taufan, menutup ceritanya. (Res)


Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi ketika dikonfirmasi mengatakan, sekolah tidak bisa menghambat aktivitas siswa hanya karena faktor di luar sekolah. “Tidak ada urusannya (sekolah dengan pekerjaan orang tua siswa),” katanya, Jumat malam.

Rahmat Effendi mengatakan akan menindak lanjuti laporan tersebut. “Nanti kami urus, sejauh mana (duduk perkara) informasi itu,” katanya.

Hingga saat ini, kami belum mendapatkan konfirmasi dari pihak sekolah–mengingat aktivitas belajar-mengajar sudah berakhir.


Kepala sekolah SMPN 41 Kota Bekasi, Munajam, ketika dikonfirmasi mengakui bahwa guru bagian kesiswaan memang menanyai soal pekerjaan orangtua ERA. Setelah mengetahui bapak ERA bekerja sebagai pengemudi ojek online, guru tersebut mencoret sebagai duta sekolah.

Maksud pencoretan itu, jelas Munajam, sebenarnya baik. Sekolah tidak ingin membebani orangtua ERA karena siswa yang terpilih menjadi duta mesti menggunakan pakaian adat sendiri–tidak dibiayai sekolah. Hanya saja, Munajam mengakui, cara sang guru berkomunikasi dengan ERA tidak tepat.

“Tadi pagi kami sudah membicarakan masalah ini secara langsung dengan orangtua ERA, dan meminta maaf atas kesalahan guru kami dalam berkomunikasi,” jelas Munajam, Sabtu (12/8/2017).

ERA memang dipilih sebagai duta, namun bukan untuk acara di sekolahnya. Yang benar, 19 Agustus 2017, SMPN 41 diminta Kelurahan Bojong Rawalumbu mengikutsertakan 100 siswa. Di kelas 7A, dipilih ERA dan satu temannya, karena dianggap pas menjadi duta.

“Saya sudah cek lagi, tidak ada agenda kegiatan penyambutan bapak wali kota di SMPN 41 Kota Bekasi. Yang ada adalah kirab budaya di Kecamatan Rawalumbu pada 19 Agustus,” kata Munajam.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Daerah Kota Bekasi Rury Arief Rianto menyempatkan datang ke SMPN 41 Kota Bekasi untuk memberi pengarahan kepada pihak sekolah. Menurutnya, sekolah, sebagai institusi pendidikan, harus memberikan contoh yang baik kepada siswanya.

“Saya berharap tidak ada kekerasan psikis yang terjadi di sekolah, apalagi yang melakukan adalah seorang guru. Persoalan anak memang kompleks, sehingga kita sebagai orang dewasa mesti memahaminya lebih jauh, termasuk dari segi psikisnya,” kata Rury.

Taufan, orangtua ERA, berterima kasih kepada KPAD Kota Bekasi yang telah merespon secara cepat mengenai kejadian itu. Ia mengaku dihubungi langsung oleh Satgas Reaksi Cepat KPAD Kota Bekasi Sopar Makmur, lalu ditanyai mendetail mengenai kasus yang menimpa ERA.

“Semalam Bapak Sopar Makmur dari KPAD menghubungi saya dan menanyakan detailnya. Tadi pagi saya juga sudah berbicara dengan kepala sekolah. Saya selalu berharap kejadian seperti ini tidak menimpa anak saya lagi, juga anak-anak yang lain,” kata Taufan.


Ingin tulisanmu dimuat di Bekasi Terkini? Kirim ulasan ringan tentang komunitas, kuliner, destinasi, budaya atau tulisan opini ke [email protected]