Minggu, 26/05/2013 10:09 WIB
| |
ar weather Hari Ini Partly Cloudy
32 C
   
ar weather Besok Hujan besar
75-86 C
   
1
|
Home » Kabar Redaksi » Artikel

»

Kamis, 09/06/2011 10:04 WIB

Tugas Kebudayaan

gb

- Di usianya yang menginjak 61 tahun, dan "melahirkan anak” bernama Kota Bekasi yang kini menginjak remaja, 14 tahun. Bekasi masih mencari bentuk identitasnya, para penggiat kebudayaan terus berupaya merumuskan budaya tunggal Bekasi. Namun sampai saat ini tak kunjung membuahkan hasil.

Arus urbanisasi membuat percampuran budaya semakin kompleks dan hetrogen. Banyak lahir budaya dan tradisi baru di tengah-tengah masyarakat Bekasi. Ibarat sebuah bangunan, pondasi budaya Bekasi berasal dari perkawinan silang antara budaya Betawi dan Sunda, yang dipengaruhi sentuhan Arab dan Cina.

Memotret kebudayaan dari ruang administrasi dan wilayah semakin membuat pertalian kebudayaan berkelindan. Budaya masyarakat Barat seperti Pondok Gede dan Kranggan, berbeda dengan masyarakat Utara yang berada di Babelan, Muara Gembong dan Tarumajaya. Begitu juga wilayah Timur dan Selatan, semacam Cikarang, Cibarusah dan Setu. Pembeda yang sederhana adalah dari dialek bahasa dan adat istiadatnya.

Sementara di sisi lain, upaya untuk melakukan pelestarian sejarah dan budaya tidak dilakukan secara serius, berjalan sporadis tanpa konsep yang utuh. Faktanya, alih-alih terjadi kemajuan, yang terjadi justru proyek restorasi kebudayan dan sejarah itu hanya berjalan di tempat. Sebagian besar bahkan nyaris kehilangan identitas kebudayaannya, digerus oleh laju mordenisasi dan globalisasi. Ranah Kebudayaan Bekasi memang sedang diambil kebangkrutan.

Pemerintah Daerah sampai saat ini hanya mampu menerbitkan bahan bacaan tentang sejarah dan kebudayaan Bekasi yang dari tahun ke tahun selalu sama, hanya berbeda kemasan penulisannya saja, tanpa menghadirkan kebaruan. Upaya untuk menghadirkan nilai kebudayaan hanya diimplementasikan dalam aspek materi. Sejarah diperlakukan sebagai benda mati yang usang dan hanya menyimpan sisa-sisa kenangan.

Sejauh ini orang Bekasi menjadi inferior sebab mereka tidak berperan sebagai pelaku perubahan. Alih-alih menjadi subyek, kita malah terjebak dan terbawa arus perubahan itu sendiri. Dalam konteks ini kita memang melakukan kompromi, tetapi kompromi yang terjadi bergerak ke arah negatif. Dengan kata lain, gagap dan gugup menghadapi perubahan.
Padahal, kebudayaan tidak sekadar persoalan kebendaan (material culture), tetapi juga prinsip-prinsip, gagasan, perilaku, dan lain-lain di luar dunia benda (non-material culture). Kebudayaan merupakan inti keseluruhan hidup. Oleh sebab itu, kebudayaan semestinya menjadi perekat bagi keseluruhan model dan strategi pembangunan.

Kebudayaan memungkinkan kita untuk menghadirkan karakteristik yang spesifik atau Jati Diri masyarakat Bekasi. Menghadirkan sebuah “Jati Diri” sangat penting sebagai modal membangun sebuah peradaban besar. Seperti kisah kejayaan Kerajaan Tarumanegara yang kini terdengar sayup-sayup. Kebanggaan itu absurd, tidak ada pijakan yang kuat, bangunannya bolong-bolong dan tinggal menunggu waktu untuk roboh.

Jati diri bukanlah sesuatu yang statis. Bekasi bukan entitas yang telah selesai. Ia adalah sesuatu yang dinamis, terus berproses, dan karena itu selalu melakukan kontekstualisasi serta tidak henti memberikan nilai baru pada diri. Dengan demikian, jati diri yang dibangun oleh relasi yang kompleks tersebut semestinya selalu berubah ke wilayah yang semakin baik (kontekstual-adaptif). Artinya, perubahan zaman pada tingkat global terus diikuti, tetapi tidak berarti menghilangkan citra diri.

Wacana ini harus kembali dihidupkan dan dikerjakan serius oleh Pemerintah Daerah dan pelaku kebudayaan di Bekasi. Kebudayaan, sekali lagi, tidak hanya digiring ke alam kebendaan dan menjadi program tahunan Pemerintah Daerah. Atau sebagai usaha menggugurkan kewajiban semata.

Setidaknya, identitas kebudayaan ini nantinya bisa menjadi semacam kompas yang bertindak sebagai arah untuk menentukan sikap yang berangkat dari dalil-dalil dan kecerdasan lokal menuju pertempuran di medan global. Juga akan menjadi pijakan untuk merealisasikan gagasan-gagasan besar kebudayaan di Bekasi.

Tentu tidak mudah mewujudkan hal tersebut. Dibutuhkan dukungan semua pihak yang juga sama-sama memiliki visi Kebudayaan. Kebudayaan bukanlah ruang pertarungan eksistensi ke-aku-an, tapi kita. Selain itu juga dibutuhkan trobosan yang juga brilyan dengan menghadirkan keutuhan mata rantai sejarah, cara pandang baru kebudayaan, penyajian yang lebih segar dan bisa dinikmati sebagai sesuatu yang dinamis, bukan sesuatu usang dan membosankan.

Selain sebagai media informasi, bekasiterkini.com bermimpi untuk bisa terlibat dalam pembentukan karakter dan indentitas masyarakat Bekasi. Kami percaya, bahwa media juga memiliki andil besar untuk ikut menjaga nilai-nilai kearifan lokal. Bekasiterkini.com, ingin melebur dan menjadi satu tarikan nafas dengan masyarakat Bekasi !

Dengan Menulis Kita Bangun Peradaban !

Denny Bratha, Tim Redaksi bekasiterkini.com (brat)

Artikel Terkait

 

ads

Suara Pembaca

Selasa, 18/10/2011 10:59 WIB

Obesitas Pusat dan Daerah

a Oleh: SL Harjanto* Beberapa kandidat yang akan diproyeksikan menjadi menteri mulai tampak. Ini setelah presiden memanggil mereka [...]

ar Kirim Suara Pembaca

Kabar Redaksi

Jumat, 21/10/2011 00:00 WIB

Perang Citra Pilkada

a Menjelang pelaksanaan Pilkada Kabupaten Bekasi, hampir di setiap sudut kota dapat dengan mudah dijumpai aneka spanduk [...]
ads