klikbekasi.co

Siti Zubaidah dan Keluarga Tak Ingin Menyaksikan Pembokaran Makam Joya

Tim Disaster Victim Indentification (DIV) Bibdokes Polda Metro Jaya bersama Forensik RS Polri, berencana melakukan autopsi terhadap jenazah M Alzahra alias Joya (30) yang tewas dibakar massa karena dituduh mencuri amplifier.

Proses autopsi itu dilaksanakan di tempat pemakaman umun (TPU) Kedondong, BTN Buni Asih, Kampung Kongsi, Cikarang Utara, dengan diawali pembongkaran makam, Rabu (9/8/2017). Pemeriksaan forensik ini untuk mengetahui penyebab pasti kematian korban.

Dari pantauan, warga terlihat sudah memadati lokasi, tempat dikuburnya korban. Mereka terus berdatangan. Warga yang mayoritas kaum ibu itu, mengaku penasaran dengan langkah Polres Metro Bekasi yang membongkar pusara Alzahra setelah sepekan dimakamkan.

Bahkan, warga rela duduk menunggu berjam-jam, dari jadwal yang di agendakan pada pukul 08.00 WIB.

Hingga berita ini diturunkan, makam warga Kampung Kavling Jati, RT 04 RT 05, Nomor 141, Desa Cikarang Kota, Kecamatan Cikarang Utara itu, belum dibongkar. Petugas gabungan kedokteran belum terlihat datang

Sementara itu, Siti Zubaidah (25), dan putranya Alif Saputra (4) beserta keluarga memilih untuk berdiam diri di kediamannya. Ia mengaku tak kuasa melihat makam suaminya dibongkar untuk keperluan autopsi. Hanya terlihat ayah kandung dari Joya, Asmawi yang ada di lokasi.

“Gak ingin aja mas, takut gak kuat, takut ada apa-apa sama kandunganya,” kata Pandi, mertua korban.

Kuasa hukum keluarga Joya, Abdul Chalim Sobri membenarkan, jika pembongkaran tersebut membuat keluarga korban trauma. Mengingat, peristiwa pemukulan dan pembakaran terhadap korban di Pasar Muara Bakti, Babelan, baru sepekan terjadi.

“Kadang autopsi itu menjadi suatu dilema buat kita. Satu sisi karena (autopsi) untuk penegakan hukum, satu sisi kita harus menghormati nilai nilai ibadah orang. Alasan kedua, karena keluarg masih syok, di agamanya perempuan tidak harus datang ke makam,” jelasnya.

Ia menambahkan jika langkah autopsi dilakukan untuk mencari bukti tambahan. Yakni, untuk menyelidiki peyebab kematian Joya, sepekan korban dimakamkan pada Rabu (2/8/2017) pagi.

“Kita ingin mengetahui penyebab kematian korban. Segitu kejamnya masyarakat, padahal korban sudah sujud meminta maaf. Namun massa tetap anarkis. Penyebab ini yang ingin kita ketahui juga,” tandasnya. (Mya)


Ingin tulisanmu dimuat di Bekasi Terkini? Kirim ulasan ringan tentang komunitas, kuliner, destinasi, budaya atau tulisan opini ke redaksi@bekasiterkini.com.