Uji Baku Mutu Kali Bekasi Melebihi Ambang Batas Kadar Kelayakan

Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, tengah berupaya meningkatkan klasifikasi kelayakan air Kali Bekasi yang kini berkategori berbahaya untuk bisa dikonsumsi oleh warganya. Demikian disampaikan Sekretaris LH Kota Bekasi Kustantina, Rabu (27/9/2017).

“Klasifikasi air baku yang layak untuk diminum berkategori kelas 1 atau minimal kelas 2, untuk kelas 3 dan 4 diperuntukan bagi ternak dan perkebunan. Saat ini kualitas air Kali Bekasi tidak masuk dalam kriteria itu,” kata dia.

Menurut dia, uji baku mutu Kali Bekasi saat ini masih melebihi ambang batas kadar kelayakan konsumsi.Dari hasil uji laboratorium yang dilakukan pada 2016, ditemukan peningkatan kadar keasaman (PH) meningkat hingga 4,6, sedangkan untuk kadar COD di atas 6. Titik tertinggi ditemukan di Bendung Kali Bekasi.

Faktor pemicu ketidaklayakan air Kali Bekasi sebut Kustantina, dipicu limbah rumah tangga serta kontaminasi limbah berbahaya dari sejumlah oknum pengusaha di sepanjang bantaran.

“Biasanya limbah rumah tangga ditunjukan dengan adanya busa hasil cuci pakaian warga atau sampah rumah tangga. Sedangkan limbah industri ditunjukan dengan adanya perubahan warna pekat serta bau kimia yang menyengat,” ungkapnya.

Menurutnya, upaya peningkatan klasifikasi air Kali Bekasi sangat penting dilakukan mengingat sebagian airnya saat ini masih dimanfaatkan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Patriot Kota Bekasi sebagai bahan baku produksi.

“Air baku PDAM Tirta Patriot selama ini masih memanfaatkan sebagian air Kali Malang dan Kali Bekasi,” katanya.

Ia mengatakatan, pencemaran air Kali Bekasi saat ini dominan dipicu oleh limbah industri dari Sungai Cileungsi, Kabupaten Bogor yang bertemu dengan hulu Kali Bekasi di Perumahan Villa Nusa Indah, Gunung Puteri, Kabupaten Bogor.

“Selama aliran sungai itu bertemu, akan sulit memulihkan kualitas air Kali Bekasi,” tutur dia.

Kepala Dinas LH Kota Bekasi Jumhana Luthfi mengatakan upaya peningkatan klasifikasi layak konsumsi air Kali Bekasi dilakukan pihaknya melalui sejumlah cara.

“Salah satunya adalah wacana kegiatan restorasi Kali Bekasi oleh Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane (BBWSCC) dalam waktu dekat. Saat ini Detail Engenering Desaign (DED) dan Analisa Dampak Lingkungan (AMDAL) sudah keluar dari Pemprov Jabar, tinggal aplikasi saja,” papar Luthfi.

Restorasi itu dilakukan dengan menormalisasi Kali Bekasi dengan cara mengeruk sedimentasi yang selama ini terkntaminasi limbah.

“Restorasi ini sedikit mempengaruhi pengurangan kadar limbah di Kali Bekasi,” katanya.

Upaya lainnya, kata dia, adalah dengan memasang kamera pengintai (CCTV) yang akan disediakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).

“Sudah ada tawaran dari Kemkominfo bahwa Kota Bekasi akan dipasang CCTV di sepanjang aliran Kali Bekasi guna memantau aktivitas disekitarnya,” kata dia.

Upaya menormalkan kembali Kali Bekasi, kata Luthfi, bukan hal yang tidak mungkin bisa direalisasikan, sebab sungai memiliki kemampuan dalam menetralisasi kandungan limbah.

“Sekarang tinggal kitanya harus serius mengantisipasi pencemaran limbah yang lebih berbahaya lagi, minimal jangan sampai kandungan limbahnya melebihi baku mutu air,” tandasnya. (Mya)


Ingin tulisanmu dimuat di Bekasi Terkini? Kirim ulasan ringan tentang komunitas, kuliner, destinasi, budaya atau tulisan opini ke redaksi@bekasiterkini.com.