klikbekasi.co

Usai dapat penghargaan dari Komnas HAM, Wali Kota Bekasi santap makan di Wisata Kuliner

Entah ada angin apa di seputar Kawasan Kuliner yang berada di Jalan Rawa Tembaga, Kelurahan Margajaya, Kecamatan Bekasi Selatan. Mata para pedagang terbelala saat melihat rombongan Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi datang.

Saat itu, waktu menunjuk pukul 17:00 WIB. Wali Kota datang dengan mengenakan batik bercorak dengan warna coklat. Ia juga memakai ikatan kepala seragam dengan bajunya. Celana hitam dan sepatu pantopel pun pas dengan ukuran tubuhnya.

Raut wajah yang cerah pun menyelimuti senyum di bibirnya. Ia pun duduk dibangku plastik warna merah, tangan ia senderkan dimeja yang sudah dibersihkan oleh sang pedagang.

Sang pedagang pun menghampirinya. Ia datang dengan sebuah kertas beserta alat tulisnya. Tanpa basi-basi, orang nomor satu di Kota Bekasi itu pun memesan sate Kambing dan Sop Kambing sebagai santapan sorenya, tak berlangsung lama pesanannya datang, ia pun menyantapnya dengan lahap.

Usai menyantap hidangan sorenya, Pepen sapaan akrab Rahmat Effendi mengatakan, kedatangan ia ke Wisata Kuliner adalah murni ingin menyantap makanan di stand makanan dimana binaan Pemerintah Kota Bekasi.

“Sop dan satenya enak, saya sudah tahan lapar sejak siang tadi setelah pergi ke Jakarta untuk keperluan yang memang sangat penting,” kata dia, Kamis (16/3/1017) usai menyantap hidangan sorenya di salah satu stand Wisata Kuliner kepada Bekasi Terkini.

Pepen menjelaskan, kedatanganya ke Ibu Kota adalah sebagai memenuhi undangan dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) RI. Undangan itu tertulis pukul 13:00 WIB, sedangkan ia dari Kota Bekasi menuju Jakarta sejak pukul 11:00 WIB.

Kehadirannya di Komnas HAM, selain untuk memenuhi undangan ternyata ia juga melakukan sedikit pemaparan tentang kerukunan umat beragama yang ada di Kota Bekasi. Berbagai macam cerita ia sampaikan kepada publik hingga pada akhirnya pukul 16:00 WIB ia pulang ke bumi patriot.

Pepen juga membeberkan bahwa kedatangannya kesanah juga menerima penghargaan dari Komnas HAM. Penghargaan itu, tentang Perlindungan dan Pemenuhan atas Kebebasan Beragama dan Keyakinan tahun 2017, di Balai Kartini.

Penghargaan ini adalah bentuk apresiasi komnas HAM terhadap beberapa daerah yang berdedikasi dalam perlindungan dan pemenuhan Hak Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan.

Selain Wali Kota Bekasi, kata Pepen, Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil dan Wali Kota Manado, Vicky Lumentut juga menerima penghargaan serupa dan menjadi panelis bersama Walikota Bekasi dalam Kongres Nasional Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (Kongres Nasional KBB) di Indonesia tahun 2017.

Pepen memaparkan, sejak tahun 2010 dirinya gencar melakukan kampanye toleransi Beragama, yang dimulai dari terbentuknya Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) setiap Kecamatan se-kota Bekasi, pada 14 Maret 2011 lalu.

“Alhamdulillah saat ini di Kota Bekasi sudah ada yang namanya Majelis Umat Beragama di 12 Kecamatan dan 56 Kelurahan. Didalam Majelis ini terdapat para tokoh dari lintas Agama,” kata dia menceritakan saat memberikan sedikit pemaparan di Balai Kartini.

Pepen juga mengatakan, Kota Bekasi adalah Kota yang Heterogen, dengan jumlah penduduknya yang mencapai 2,6 Juta Jiwa. Disamping kelompok-kelompok radikal atau intoleransi di Kota Bekasi masih ada, namun semua itu dapat diselesaikan dengan norma hukum dan undang-undang yang berlaku.

“Tugas Kepala Daerah itu adalah melaksanakan Undang-Undang. Jadi tidak boleh takut dengan tekanan atau presure. Kita harus proposional. Jadi pada saat ketentuannya sudah berjalan, normatifnya sudah berjalan, tidak ada yang perlu ditakuti” kata dia.

Kasus Persoalan Gereja Katolik, Santa Clara beberapa waktu lalu di Kota Bekasi misalnya, lanjut Pepen, menjadi perhatian dunia. Hal ini juga lah yang mendasari dirinya di panggil ke Vatikan, Roma.

“Setelah saya ketemu Romo Katerdal di Jakarta, saya ke Marsudirini kemudian dapet salam dari Duta Besar Vatikan. Ternyata Duta Besar Vatikan memperhatikan Kota Bekasi tentang kebergaman yang selama ini kita lakukan, terutama pada persoalan Gereja Kalamiring, Santa Clara yang sempat Ramai itu, sudah selesai semua. Bahkan peletakan batu pertamanya sayang yang lakukan” papar dia.

Lebih lanjut, kata Pepen, dalam waktu dekat ini Pemerintah Kota Bekasi juga akan melakukan pemutihan terhadap 260 Rumah Ibadah Gereja di ruko-ruko, serta yang belum memiliki izin berdiri puluhan tahun di Kota Bekasi termasuk masjid dan rumah ibadah lainnya yang ada di Kota Bekasi.

“Saya sedang memikirkan untuk pemutihannya karena ada perjanjiannya di Kementerian itu. Sebab, selama ini mereka yang sudah berdiri puluhan tahun itu tidak pernah ada masalah dengan warga, lalu kenapa ketika dikeluarkan izin jadi bermasalah, nah itu sedang saya pikirkan, nanti akan sama kaya Kota Bandung, kita akan putihkan juga” tandas dia. (Mya)


Ingin tulisanmu dimuat di Bekasi Terkini? Kirim ulasan ringan tentang komunitas, kuliner, destinasi, budaya atau tulisan opini ke redaksi@bekasiterkini.com.