klikbekasi.co

Warga Kota Bekasi Tolak Penerapan Sistem Ganjil Genap di Tol Japek

Pada bulan Agustus ini, pemerintah pusat akan memberlakukan sistem ganjil-genap kendaraan pribadi dan mengalihkan (rerouting) kendaraan berat golongan II dan III ke luar tol.

Sistem ini diberlakukan mulai dari Bekasi Barat, Kota Bekasi sampai Cawang, Jakarta Timur dan arah sebaliknya. Adapun peraturan ini mulai berlaku pada jam sibuk dari pukul 06.00 sampai 09.00.

Sejumlah warga Kota Bekasi yang bekerja di DKI Jakarta menolak rencana pemberlakuan sistem ganjil-genap kendaraan pribadi di ruas tol Jakarta-Cikampek. Mereka bahkan menuding, kemacetan di ruas tol setempat justru dipicu karena banyaknya kendaraan berat golongan II dan III.

“Kendaraan pribadi jangan diberlakukan ganjil genap, tapi kendaraan besar yang jalannya lambat seperti golongan II dan III yang harus diberlakukan sistem itu,” ujar Sururi (41) salah seorang warga Pondok Mitra Lestari (PML) RT 14 RW 13, Kelurahan Jatiasih, Rabu (16/8/2017).

Sururi mengungkapkan, arus lalu lintas belakangan ini cukup parah di ruas tol setempat terutama di daerah Bekasi Barat. Dia harus menempuh perjalanan selama 1,5 jam lebih dari rumahnya sampai daerah Cawang. Padahal sebelumnya, waktu tempuhnya hanya memakan waktu selama 30 menit.

“Saya keberatan dengan rencana itu karena penyebab kemacetan bukan pada kendaraan pribadi, tapi banyaknya truk dan adanya penyempitan jalan karena sejumlah pembangunan di ruas tol,” kata Sururi yang bekerja di daerah Cawang ini.

Senada diungkapkan Setiadi (36) warga Perumahan Pondok Timur Indah, Mustikajaya. Menurut dia, pemerintah seharusnya menyediakan fasilitas transportasi umum yang memadai sehingga mudah dijangkau warganya. Meski nyatanya ada kereta rel listrik (KRL) dan Transjabodetabek di Kota Bekasi, namun tetap saja tidak optimal.

“Rumah saya di daerah selatan, sementara posisi Transjabodetabek dan KRL ada di sisi utara,” kata Setiadi.

Tidak hanya itu, naik TransJabodetabek juga tidak bisa menjadi jaminan bakal lancar saat melaju di ruas tol Jakarta-Cikampek. Soalnya kemacetan di ruas tol semakin parah menyusul adanya pembangunan sejumlah infrastruktur.

“Naik KRL juga selalu padat, kalau tidak percaya lihat saja. Setiap jam sibuk penumpang saling berdesakan untuk naik kereta,” ujarnya.

Setiadi menambahkan, sistem ganjil genap sangat menyulitkan pengendara. Apalagi kendaraan mobilnya berpelat genap, sehingga tidak akan bisa dioperasikan saat jadwal ganjil.

“Nggak mungkin juga saya beli mobil satu lagi yang berpelat ganjil,” kata Setiadi.

Sementara itu, warga lainnya Panji (50) berpendapat lain. Ketua RT 06 di daerah PML, Kelurahan Jatiasih, ini justru setuju dengan rencana itu. Dia menilai, kemacetan saat ini tidak tertangani dengan adanya rekayasa apapun karena ruas jalan semakin menyempit akibat proyek pembangunan di sana.

“Transportasi umum memang menjadi solusi dalam mengurangi kepadatan di ruas tol. Tapi pelayanan juga harus diperhatikan,” kata Panji.

Selama ini, Panji selalu mengandalkan sepeda motor dan transportasi umum untuk menuju kantornya di daerah Jakarta Pusat. Dia enggan mengendarai mobil karena situasi tol sangat padat menuju Jakarta.

“Pernah pakai mobil, macetnya parah sekali jadinya beralih ke sepeda motor atau transportasi umum,” ujarnya.


Ingin tulisanmu dimuat di Bekasi Terkini? Kirim ulasan ringan tentang komunitas, kuliner, destinasi, budaya atau tulisan opini ke redaksi@bekasiterkini.com.