klikbekasi.co

Derita Korban Penggusuran, Satu Tahun Tinggal di Tenda Pengungsian Tanpa Kejelasan dari Pemkot Bekasi

Satu tahun sudah, 206 Kepala Keluarga (KK) dari kampung Poncol Bulak, Kelurahan Pekayon, Bekasi Selatan, Kota Bekasi hidup menderita di tenda-tenda pengungsian usai rumah mereka digusur oleh Pemkot Bekasi Oktober 2016 silam.

Hari demi hari, waktu demi waktu, dalam derita, para korban penggusuran berharap Pemkot Bekasi datang untuk memberikan ganti rugi kepada mereka yang rumahnya telah dihancur leburkan oleh Pemkot Bekasi menggunakan alat berat. Sayang, seribu sayang, harapan tak pernah menjadi kenyataan, ganti rugi tak jua datang.

Pernah sempat datang, sekumpulan anggota dewan berjanji akan memperjuangkan para korban penggusuran agar mendapat ganti rugi, bahkan ada yang menjanjikan akan menyumbangkan gajinya untuk korban agar bisa mengontrak rumah setelah mereka kehilangan rumah, nyatanya janji tinggal janji. Tidak pernah ada ganti rugi.

Bahkan sayup-sayup terdengar kabar, kalau sekumpulan anggota dewan yang mengaku memperjuangkan aspirasi korban penggusuran jusrtu menerima keuntungan dari penguasa.

Ah, tapi sudahlah begitu kata Diding, salah satu korban penggusuran. Yang jelas, sampai hari ini ia dan korban pengusuran lainnya tidak lelah menanti adanya uang ganti rugi.

Mereka tak pernah lelah, segala upaya sudah mereka lakukan. Dari berdemonstrasi ke DPRD, Pemkot Bekasi, melapor ke Komnas HAM hinga Presiden.

“Kami masih tunggu ganti rugi oleh Pemkot Bekasi dan kami warga akan terus memperjuangkan hak kami,” kata Diding, salah satu korban gusuran di lokasi pengungsian tepatnya di RT 02, RW 17, Kampung Bulak, Kelurahan Pekayon, Bekasi Selatan, Minggu (29/10).

Masih teringat di memori Diding, Pemkot Bekasi begitu angkuh dan arogannya saat menghancurkan rumah-rumah warga yang dibangun dengan uang hasil keringat dan jerit payah sendiri yang berdiri di tahan sepanjang 72 kilometer.

“Pemkot dengan semena-mena telah menggusur rumah kami. Sekarang kami terlantar, tidak memiliki tempat tinggal dan harus rela tidur di posko pengungsian seperti ini,” keluhnya.

Diding bercerita, dirinya dan ratusan warga lain, terpaksa tinggal di bedeng yang dijadikan tenda pengungsian dengan kondisi yang memprihatinkan. Selain kekurangan bahan makanan, warga pun rentan terkena penyakit, seperti flu, batuk dan tipes.

“Ya mau tidak mau tinggal di bedeng ini, apalagi saat ini kondisi saya sedang sakit-sakitan,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu korban lainnya, Ahmad menuturkan, warga sudah mengadukan perihal nasib mereka ke Komnas HAM, namun tetap tak mendapat respon dari Pemkot Bekasi.

“Saat ini kami hanya meminta ganti rugi atas bangunan rumah kami yang sudah digusur. Semua cara sudah kami lakukan, tapi tetap tidak direspon wali kota Bekasi,” ungkapnya.(Jay)


Ingin tulisanmu dimuat di Bekasi Terkini? Kirim ulasan ringan tentang komunitas, kuliner, destinasi, budaya atau tulisan opini ke redaksi@bekasiterkini.com.