klikbekasi.co

Kota Bekasi Masa Depan, Bagaimana?

Masyarakat Kota Bekasi tentu banyak yang bertanya, seperti apa kota yang ditinggalinya di masa depan nanti. Pertanyaan itu, terjawab sudah dalam acara Bincang Santai Rukun Jurnalis Bekasi bertema “Kota Layak Lingkungan” yang di helat di Hutan Kota, Kota Bekasi, Jumat (27/10) malam.

Menurut Kepala Bidang Ekonomi dan Sumber Daya Alam Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Bekasi, Sukarsih mengatakan, Kota Bekasi di masa mendatang didesain menjadi kota metropolis.

“Gambarannya akan di desain seperti kota Jakarta. Dengan infrastruktur, sarana dan prasarana yang moderen yang saling terintegrasi untuk masyarakatnya,” ujar Sukarsih.

Lanjut kata dia, Konsep dan perencanaan tersebut sudah tertuang dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bekasi tahun 2011-2031.

Namun kata dia, menjadi kota metropolis, bukan tanpa konsekuensi. Ada konsekuensi yang tentu harus diterima oleh Kota Bekasi. Misalnya soal sampah.

Meningkatnya volume sampah, kata Sukarsih, jelas menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindarkan sebagai sebuah kota metropolis. Karenanya, saat ini Kota Bekasi terus mengupayakan ada percepatan infrastruktur di bidang persampahan.

“Kita terus meminta kepada pusat agar infrastruktur persampahan bisa dipercepat di Kota Bekasi. Ini sebagai sebuah upaya kami mengatasi persoalan sampah di Kota Bekasi,” kata dia.

Selain, infrastruktur persampahan, Kota Bekasi sebagai daerah yang menjadi Pusat Kegiatan Nasional (PKN) juga terus berkoordinasi kepada Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk percepatan infrastruktur.

“Kami juga terus berkomunikasi dan berkoordinasi dengan PUPR untuk melakukan percepatan infrastruktuf,” kata Sukarsih.

Lalu bagaimana kondisi Kota Bekasi hari ini?

Jika Kota Bekasi di masa depan adalah Kota Bekasi yang metropolis, maka bagaimana kondisinya saat ini?

Bila mengacu pada kacamata lingkungan hidup, maka ada beberapa permasalah mengemuka saat ini. Salah satunya Sampah, air, udara dan keterbatasan ruang.

Sampah masalah serius

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Jumhana Lutfi mengatakan, masalah sampah menjadi persoalan yang cukup serius. Di mana Pemkot Bekasi terus berupaya untuk mengatasinya.

Dalam sehari saja kata dia, produksi sampah Kota Bekasi mencapai 1.700 ton. Sebagai salah satu solusinya, Pemkot Bekasi menggandeng masyarakat untuk membangun bank-bank sampah. Totalnya, sudah ada 900 lebih bank sampah terbentuk di Kota Bekasi.

“Sampah Kota Bekasi dalam sehari mencapi 1.700 ton, nah kita ajak masyarakat untuk membangun bank-bank sampah sebagai salah satu upaya menekan produksi sampah,” kata dia.

Dalam mengurus sampah, Pemkot Bekasi juga menemui beberapa kendala. Misalnya, susahnya membangun tempat pembuangan sampah sementara. Di mana mayoritas warga banyak yang menolak di lingkungan mereka berdiri tempat pembuangan sampah sementara.

“Banyak warga yang gak mau lingkungannya ada TPS. Makanya, sampah langsung kita angkut dari tong sampah warga. Nah di situ kadang ada keterlambatan, tidak setiap hari bisa ke angkut,” jelas Lutfi.

Kota Bekasi juga tersandra dengan kebijakan pusat, ketika ingin membangun Intermediate Treatment Facilities (ITF). Di mana, kebijakan pusat soal ITF digugat oleh penggiat lingkungan hidup. Padahal, teknologi tersebut dinilai tepat dalam pengelolaan sampah.

“Kami sudah merencanakan membangun ITF sebagai sarana pengolah sampah, namun karena mendapat gugatan, kebijakan tersebut dicabut oleh Pemerintah Pusat sehingga tidak ada dasar kami untuk pembangunan ITF di Kota Bekasi,” tandasnya.

Soal sampah, Lutfi juga menyayangkan juga rendahnya kesadaran masyarakat untuk sadar terhadap kebersihan lingkungan. Ia misalnya, pernah beberapa kali melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) kepada pembuang sampah sembarangan. Tapi tetap saja, masih saja masyarakat membuang sampah sembarangan.

“Kami gelar OTT untuk memberikan efek jera. Tapi kenyataannya, masih saja ada yang buang sampah sembarangan. Padahal di daerah lain, kesadaran sudah terbangun,” kata dia.

Pernyataan Lutfi soal rendahnya kesadaran masyarakat, diamini oleh Anggota Komsii II DPRD Kota Bekasi, Daryanto, menurutnya, di daerah lain, kesadaran masyarakat sudah tinggi. Masyarakat di luar Kota Bekasi, sudah menganggap penting arti sebuah kebersihan.

“Kota Malang mungkin sudah bosan dapat Adipura. Di sana, gak penting penghargaannya tapi bersihnya. Nah di kita ini belum terbangun budayanya. Belum ada kesadaran yang kuat,” kata Daryanto.

Padahal, bagi Daryanto, menjaga lingkungan Kota Bekasi merupakan tanggungjawab semua pihak.

“Ini menjadi tugas bersama. Baik pemerintahnya juga masyarakat. Saya rasa jika terbangun sinergi maka akan mudah menjaga lingkungan Kota Bekasi,” kata dia,

Sementara Ketua Komunitas Barudak Leutik, Agus tidak sependapat jika masyarakat disalahkan. Karena, menurutnya, semua tergantung dari pada pemerintah itu sendiri.

“Jangan salahkan masyarakat. Semua kembali kepada pemerintahnya. Jangan masyarakat terus disalahkan,” kata pimpinan komunitas yang aktif bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat di sekitar Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang.

Ketua Relawan Jakarta Maju Bersama, Usamah Abdul Azis yang konsen terhadap permasalahan lingkungan mengatakan, butuh adanya kolaborasi antara pemerintah dengan masyarakat. Artinya kata dia, tugas menjaga lingkungan bukan tugas pemerintah saja, tapi juga masyarakatnya.

“Artinya sudah saatnya ada kolaborasi antara pemerintah dengan masyarakatnya. Kalau kolaborasi tercipta saya rasa ini akan lebih baik,” katanya.

Rawan krisis Air

Selain sampah, ketersedian air di Kota Bekasi juga menjadi persoalan yang serius.

Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Kustantina mengatakan, di Kota Bekasi sudah banyak wilayah-wilayah yang memasuki zona merah. Yang artinya, daerah tersebut ketersedian air tanahnya sudah menipis.

“Ada beberapa wilayah di Kota Bekasi masuk zona merah. Salah satunya di daerah dengan padat indusrti dan pemukiman padat yang penggunaan air tanahnya tinggi,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Jumhana Lutfi juga mengemukakan soal kondisi air Kali Bekasi yang kondisinya tidak layak konsumsi. Padahal, suplai utama bahan baku air PDAM Tirta Patriot berasal dari Kali Bekasi.

Oleh karena itu, Dinas Lingkungan Hidup merekomendasikan agar PDAM Tirta Patriot menggunakan air dari kali yang lain untuk suplai bahan baku, seperti air dari Kali Malang misalnya.

“Kalau toh masih mengunakan air Kali Bekasi, syaratnya harus ada alat dan teknologi yang memadahi untuk memproses air Kali Bekasi,” jelasnya.

Dinas Lingkungan Hidup sendiri, tidak hanya berdiam diri terhadap segala bentuk pencemaran terhadap Kali Bekasi. Baik yang sumbernya dari limbah industri, maupun limbah rumah tangga.

Salah satu upaya untuk menjaga Kali Bekasi tetap bersih, Dinas Lingkungan Hidup melakukan pemantuan kondisi air Kali Bekasi secara berkala dan mengambil tindakan terhadap pihak-pihak yang melakukan pencemaran terhadap Kali Bekasi.

Bukan itu saja, karena Kali Bekasi berada di wilayah hilir di mana hulunya ada di daerah Kabupaten Bogor maka Dinas Lingkungan Hidup menjalin kerjasama dengan Bogor dalam terkait Kali Bekasi.

Pemkot Bekasi juga sudah mengajukan rancangan peraturan daerah (raperda) Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) ke DPRD Kota Bekasi. Dengan adanya RPPLH nantinya, pihak Pemkot Bekasi akan mudah melakukan pengawasan terhadap kondisi lingkungan hidup.

“Kita tengah siapkan RPPLH sebagai payung hukum. Dengan RPPLH maka upaya kita untuk menjaga lingkungan hidup di Kota Bekasi akan semakin mudah,” tandasnya.

Sementara Kepala Bidang Ekonomi dan Sumber Daya Alam Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Bekasi, Sukarsih mengatakan, Pemkot Bekasi telah menyiapkan pembangunan Sistem Penyedian Air Minum (SPAM) di wilayah Pondokgede untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga.

“SPAM Pondokgede tengah disiapkan akan segera dibangun,” katanya.

Kondisi udara yang tidak bagus

Dengan banyaknya jumlah kendaraan bermotor dan industri, maka kondisi udara di Kota Bekasi jelas tidak nyaman.

Terkait hal itu, Anggota Komisi II DPRD Kota Bekasi, Daryanto mengatakan, berkomitmen mendorong Pemkot Bekasi untuk menciptakan kondisi udara yang bagus sehingga nyaman untuk masyarakatnya.

“Kita di DPRD terus menguapayakan adanya kontrol dan dorongan kepada pemerintah daerah untuk bekerja maksimal. Termasuk salah satunya mewujudkan Kota Bekasi yang layak lingkungan,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Jumhana Lutfi mengatakan, menjaga kondisi udara di Kota Bekasi agar terbebas dari polusi adalah komitmen Pemkot Bekasi.

Salah satu upaya nyata, yakni dengan rutinya mangadakan Car Free Day setiap seminggu sekali. Sebagai upaya untuk mengurangi polusi asap kendaraan bermotor.

Selain itu,  Dinas Lingkungan Hidup secara rutin dan berkala mengecek pabrik-pabrik yang ada di Kota Bekasi terutama yang memproduksi limbah asap.

“Kita cek secara berkala, apakah limbah berupa asap yang mereka keluarkan itu membahayakan atau tidak. Kita bina terus, kita pastikan asap pabrik masih dalam dalam batas aman,” tandansya.

Minimnya ketersedian lahan

Dengan pesatnya pembangunan, mau tidak mau, itu berdampak pada ketersedian lahan di Kota Bekasi yang kian menipis.

Padahal, salah satu syarat untuk mewujudkan kota yang layak lingkungan adalah ketersedian lahan. Khususnya lahan untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH).

Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Kustantina mengungkapkan, saat ini ketersedian RTH baru mencapai 14 persen. Padahal kebutuhan, akan RTH mencapai 30 persen.

“Syarat untuk menjadi kota yang layak lingkungan itu keteresedian RTH. Sementara RTH kita masih jauh dari kebutuhan,” terangnya.

Sementara Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Jumhana Lutfi mengatakan, faktor ketersedian lahan berdampak kebutuhan akan pemukiman.

Dari hasil penelitian menurut Jumhana Lutfi, kebutuhan akan rumah mencpai 36.000.

“Jadi untuk satu keluarga yang diisi oleh 4 orang. Kota Bekasi butuh 36.000 rumah,” jelas dia.

Lalu dengan gambaran yang ada saat ini, sudahkah Kota Bekasi disebut sebagai kota yang layak lingkungan?.(Ical)


Ingin tulisanmu dimuat di Bekasi Terkini? Kirim ulasan ringan tentang komunitas, kuliner, destinasi, budaya atau tulisan opini ke redaksi@bekasiterkini.com.